Sabtu, 06 Juni 2020
ANTARA KITA DAN WAKTU
Selasa, 02 Juni 2020
WARISAN DAN PENINGGALAN DARI RAMADAN KEMARIN
WARISAN DAN PENINGGALAN DARI RAMADAN KEMARIN
Susanto (Gus Cokro ST)- Rimbo Ulu, 2 Juni 2020
Tamu agung itu telah
pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau
tidak. Ya,
bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang
hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita
digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan? Kita tidak ingin nuansa Ramadhan
menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan
sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia
sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan.
Kita masih ingat bagaimana
menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan
haus serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat
ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari
untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini? Bulan
suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat
dalam keseharian kita. Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran.
Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin
membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan
melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya.
Kebiasaan ini selayaknya
dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya
dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di
dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya
diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ...” (QS
al-Baqarah: 185).
Kedua, shalat. Pada bulan
Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua
amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan
shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih
sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap
dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan
Ramadhan
Ketiga, infak. Pada bulan
Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti
berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu
zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini
sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.
Ketiga
hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga
dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di
tahun berikutnya. Maka, dengan demikian, kita bisa mencapai predikat
manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap
bulannya.
Bukan
tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum
Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih
(ummatan wasathan).
Hal
ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari
rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan
terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS
Fathir: 29).
Mudah-mudahan
di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga
warisan Ramadhan di atas.
@BloggerMahasiswa
@BloggerMahasiswaIndonesia
@MenulisSerempak
@SusantoTan
BARANG SIAPA SUNGGUH-SUNGGUH MENCARI ILMU, ALLAH AKAN MEMUDAHKAN JALAN MENUJU KESUKSESAN
BARANG SIAPA SUNGGUH-SUNGGUH MENCARI ILMU, ALLAH AKAN
MEMUDAHKAN JALAN MENUJU KESUKSESAN
Rimbo Ulu, 2 Juli 2020
Susanto - Gus Cokro
BARANG SIAPA SUNGGUH-SUNGGUH MENCARI ILMU, ALLAH AKAN
MEMUDAHKAN JALAN MENUJU KESUKSESAN
Setiap orang yang hidup di atas bumi
menginginkan hidupnya selalu sukses. Hanya sedikit yang mampu mencapainya.
Kebanyakan belum mencapai level tersebut. Jika demikian, ada satu pertanyaan
besar, mengapa orang yang menginginkan kesuksesan belum kunjung juga
mendapatkanya? Untuk pertanyaan ini, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan
jawabannya.
Rasulullah SAW mengatakan, “Man
salaka thariqan yaltamisu fihi ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah (Barangsiapa
berjalan (keluar) mencari ilmu, sesungguhnya Allah akan mempermudah baginya
jalan menuju surga)." (Hadis riwayat Ibnu Majah dan Abu Dawud)
Hadis itu menguraikan,
Rasulullah menyebut seseorang yang sedang berjalan untuk menuntut ilmu dengan
kata “salaka”. Padahal, berjalan dalam bahasa Arab tidak hanya “salaka”, masih
ada kata “masya”, “sara”, “safara”, atau “dzahaba”.
Pertanyaannya, mengapa kata
“salaka” yang dipilih Nabi, bukan selainnya. Rupanya, kata-kata selain “salaka”
hanya mempunyai arti utama berjalan. Perjalannya, terkadang, hanya untuk mencari
kesenangan belaka. Mungkin, pembaca pernah mendengar, orang yang berjalan untuk
mencari hiburan disebut dengan “tamasya”. Kata tersebut berasal dari kata
“masya”.
Jika Nabi menggunakan kata
ini, niscaya orang yang menuntut ilmu ini hanya akan mencari kesenangan belaka.
Padahal, perjalanan mencari ilmu bukanlah untuk mencari kesenangan.
“Salaka” bermakna orang
yang berjalan dengan tegap dan cepat serta dengan pandangan fokus ke tujuan
yang diimpikan. Dalam hal menuntut ilmu, Nabi menginginkan agar “thalib al-ilm”
benar-benar berjalan dengan tegap dan cepat, bukan berjalan dengan
berleha-leha, apalagi merangkak. Jika ia tidak fokus, ia akan berhenti di
tengah perjalanan, bahkan akan kembali ke rumah-jika ada hambatan yang
mengadang.
Dengan
berjalan tegap dan cepat, dia sekarang berada di tengah-tengah perjalanan. Nabi
mengingatkan orang ini agar perjalanannya diiringi dengan “yaltamisu”,
berpegang (memegang). Dalam hal ini pula, Nabi menggunakan kata “yaltamisu”,
bukan “yumsiku” atau “qabadha”.
Jika
“Yumsiku” yang digunakan oleh Nabi maka orang ini hanya akan sekadar memegang.
Sementara, “yaltamisu” memiliki makna memegang erat-erat atau kuat-kuat. Bak
orang yang hendak hampir jatuh ke jurang, orang ini akan memegangi ranting
dengan kuat. Jika tidak, pasti ia akan jatuh ke dalam jurang.
Begitu
juga dengan orang yang menuntut ilmu. Ketika sudah berada di tengah-tengah
perjalanan (salaka), ia juga berpegang kuat-kuat. Dalam konteks ini, dia harus
memegang kuat niat yang ada di dalam jiwanya. Dia pun tidak akan berhenti di
tengah jalan meski diadang seribu halangan.
Kata
kunci selanjutnya dalam hadis Nabi di atas ialah “jannah” yang berarti surga.
Surga merupakan gambaran dari suatu tempat yang di dalamnya penuh kenikmatan.
Tiap orang yang menikmati fasilitasnya, tidak perlu lagi bekerja. Semua hal
yang diinginkan sudah disediakan di dalamnya.
Surga
dengan gambaran demikian baru bisa dinikmati oleh seseorang ketika sudah
meninggal dunia. Lantas, apakah surga seperti itu
jadi jaminan bagi penuntut ilmu? Nabi SAW sadar, penuntut ilmu hidup di atas
bumi. Dia menginginkan kehidupannya mapan dan tercukupi segala kebutuhannya.
Oleh
karenanya, surga (jannah) dalam hadis di atas hanya merupakan simbol.
"Jannah” di atas bermakna kesuksesan. Orang yang sudah sukses, hidupnya
penuh dengan kenikmatan. Segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik.
Dengan demikian, makna dari hadis Nabi di atas ialah, “Barang siapa yang mengadakan perjalanan dengan sungguh-sungguh untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk menuju kesuksesan.” Inilah jaminan kepada siapa saja yang sudah berilmu, hidupnya akan sukses. Tidaklah mungkin orang tersebut akan sengsara. Wallahu A’lam.
Jumat, 29 Mei 2020
KELAKAR #2 (PERBEDAAN NILAI Rp.5000)
KELAKAR #2
PERBEDAAN NILAI Rp.5000
Susanto
(Rimbo Ulu - Jambi, 29 Mei 2020)
Selesai sholat magrib dan selesai mengaji pak Kyai dan
para murit melakukan dialog ringan sebagai penambah wawasan dan pengetahuan
agama Islam, Pak Kyai memulai pembahasan yang mengherankan para muridnya:
Kyai :
Para muridku ada yang tahu kenapa nilai mata uang Rp.5000 itu bisa berbeda?
Ada yang tahu penyebabnya?
Murid 1 :
Karna salah satu uangnya robek
Kyai : Ya, Tapi ini uangnya sama
bagus dan sama kondisinya.
Murid
2 : Yang satu di tabung yang
satu di belanjakan pak Kyai.
Kyai : Tidak, jika ditabungkan
uangnya tetap dalam kondisi Rp.5.000 dan nilai uangnya tetap Rp5.000
Murid
3 : Pasti pak Kyai salah baca kitab tebakannya.
Kayi : Hahahaha....
Saya belum punya
kitab tebakan
Murid : Jadi
kenapa bisa begitu pak Kyai?
Kyai : Baiklah, saya akan jawab sendiri pertanyaannya.
Jawabannya adalah
uang tersebud disedekahkan oleh orang yang berbeda dengan kondisi ekonomi yang
berbeda.
Murid : Bagaimana
maksudnya pak Kyai?
Kyai : jadi begini ya, di dengerin bpk akan cerita. Semoga dari cerita
bapak nanti bisa jadi ilmu yang berkah dan memperjelas jawaban bpk tadi.
Di desa A, ada Tuan
C dan Bpk D. Tuan C adalah saudagar kaya dengan rumah mewah, sawah yang luas
dan perkebunan yang cukup luas dengan jumlah kendaraan mewah yang berjajar di
garasinya antara 3 – 5 unit mobil. Penghasilan Tuan C perhari bisa rata-rata
Rp.5.000.000.
Bapak D adalah
kepala rumah tangga sederhana, peerjaannya hanyalah buruh tani di sawah milik
tuan C. Kehidupannya cukup sederhana dengan rumah sederhana dan satu-satunya
alat transportasinya adalah sepeda gunung (Sepeda ontel). Dari pekerjaan bpk D
biasanya ia diberi upah harian sebesar Rp.25.000/ hari inipun karena bpk D
menggarap cukup luas sawah Tuan C sehingga waktu Bpk D mulai pagi dan sore baru
pulang.
Pada hari jum’at
Tuan C dan Bpk D biasa bertemu di masjid untuk menunaikan kewajiban sebagai
seorang muslim dan pada hari itu diketahuilah bahwa Tuan C dan Bpk D sama-sama
mengisi infak sebesar Rp.5.000.
Hari berganti
hari, minggu berganti minggu, Tuan C mengalami musibah kecelakaan dan ia harus
menanggung biaya pengobatan untuk keluarganya dan keluarga orang yang di
tabraknya, dan juga memberi santunan untuk keluarga korban karna salah satunya
meninggal dunia.
Syukurnya, Tuan C
tergolong orang yang kuat ibadahnya. Ditengah cobaan beliau masih tetap taat
menjalankan sholat, dan seperti biasa pada jum’at-jum’at sebelumnya bertemulah
kembali Tuan C dan Bpk D di masjid untuk sholat jum’at. Biasanya mereka akan
emasukkan infak sebesar Rp.5.000, tapi
kali ini Tuan C tidak memasukkan infakny, ia hanya mendorong kotak infak yang
sampai pada dirinya. Berbeda dengan Bpk D yang tetap memasukkan infaknya
Rp.5.000. dan hal itu diketahui oleh Tuan C, sehingga setelah sholat jum’at Bpk
D dipanggil oleh Tuan C dan ditanya : “Bpk D saya lihat setiap jum’at bpk
selalu mengisi infak sebesar Rp.5.000, apa bpk tidak merasa keberatan? Bukankah
upah bapak cuman Rp.25.000 / hari?
Bpk D hanya
tersebum dan menjawab : “ jangan di omong-omongin atuh tuan, nanti saya sombong,
saya takut dosa”.
Tapi saya mau
tahu, apa bpk tidak merasa keberatan? Timpal Tuan C lagi untuk mengetahui
jawaban Bpk D, dan akhirnya Bpk D memberikan jawaban agar Tuan C bisa lega dan
tidak penasaran, “tentu tidak keberatan Tuan, itukan tabungan kita untuk di
akhirat. Kebutuhan lainnya mah serahkan kepada Allah, biar Gusti Allah yang
ngatur. Buktinya Allah berikan kemudahan rejeki untuk saya melalui tangan dan
sawah Tuan yang saya garab. Saya mah cuman bisa infak segitu Tuan, beda atuh
sama Tuan klo infak mestinya ya Tuan uang sebesar itu apa artinya ngak ada
seujung kuku dari penghasilan Tuan. Pokoknya Tuan mah orang hebat, saya
bersyukur bisa punya majikan seperti tuan”. Setelah memberi jawaban Bpk D berpamitan
karna akan meneruskan pekerjaannya di sawak.
Tuan C tertegun
melihat kepergian Bpk D yang sudah menggunakan motor, tapi tetap santun dan
selalu ceria jika menemui majikannya dan juga ramah terhadap orang
disekelilingnya. Jawaban Bpk D terus terngiang ditelinga Tuan C, ia merasa malu
pada Allah yang sudah menitipkan banyak harta untuknya tapi untuk infak saja
berhenti ketika sedang di coba, sedangkan Bpk D tetap istiqomah dengan
kebiasaan infaknya walaupun penghasilannya jauh dibawahnya.
Nah, murid-murid
sudah tahu belum. Kenapa uang Rp.5.000 bisa berbeda nilainya?
Murid : Sudah
Pak Kyai
Kyai : Ayo, coba jelaskan sedikit.
Murid : Bapak
D nilai infak Rp.5.000 nya lebih tinggi dari pada nilai infak Tuan C yang
Rp.5.000
Karena Tuan C
penghasilannya jauh lebih besar dari pada Bpk D, sehingga nilai infak Tuan C
ternilai lebih kecil.
Kyai : Baik, di ingat ya. Nilai mata uang yang kita berikan di jalan
Allah semuanya baik dan diterima. Namun jika kita ambil pertimbangan tentu yang
penghasilannya besar sewajarnya infak atau sedekahnya juga lebih besar.
Demikian Kelakar #2 kali ini sahabat-sahabatku, semoga
bisa menajadi masukan dan pengingat terutama bagi penulis yang masih bahil. Semoga
kita semua bisa menjadi orang-orang yang dermawan dan ahli sodakoh. Amin.


